Pendahuluan

Saat ini banyak sekali orang yang melihat sesuatu, menilai sesuatu atau, mempersepsikan sesuatu hanya berdasarkan informasi yang didapat dari pihak ke tiga, seperti media baik itu media cetak, media elektronik sampai yang saat ini sedang menjadi trend yaitu media sosial. Selain media, informasi dari mulut ke mulut juga (word of mount) mudah sekali menyebar dan mudah dipercaya begitu saja oleh mayoritas masyarakat kita.

Mungkin kalau hanya sekedar untuk mendapatkan informasi faktual seperti berita ekonomi, peristiwa dalam dan luar negeri, kondisi sosial politik atau berita olahraga. Informasi dari pihak ketiga seperti media, cukup untuk kita jadikan sebagai bahan referensi yang dapat dipercaya. Karena memang itulah salah satu fungsi dari media, untuk menyajikan informasi dan data-data.

Namun jika kita menilai, mensifati, atau mempersepsikan sesuatu ataupun seseorang hanya dengan informasi​ dari media ataupun berita dari mulut ke mulut, Menurut saya itu hal yang tidak tepat. Kita perlu menggali informasi yang lebih dalam lagi, melakukan riset lebih dalam langsung dari orang/sesuatu itu, juga dari orang-orang ataupun hal-hal yang terlibat langsung dengan lingkungan kesehariannya. Karena media syarat akan kepentingan tertentu, terkadang beda media beda pula informasi yang disajikan.

Sekarang ini saya sangat prihatin dengan apa yang digambarkan oleh beberapa media tentang Islam. Islam digambarkan seperti agamanya teroris, radikal, fundamentalis, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Sampai-sampai ada beberapa orangtua yang melarang anaknya untuk mengikuti kegiatan atau kajian islam di sekolahnya. Menyedihkan sekali, padahal mereka beragama islam.

Terkait hal tersebut diatas, ada sebuah pernyataan yang sangat bagus yang disampaikan oleh seorang ulama kelas dunia beliau adalah Zakir Naik. Beliau hampir dalam setiap ceramahnya mengatakan "Jika anda ingin mengetahui ajaran suatu agama, maka lihatlah apa yang tertulis dalam kitab sucinya, bukan dari media ataupun dari orang-orangnya". Ya benar sekali, ini yang lebih objektif, jika kita ingin mengetahui ajaran suatu agama maka lihatlah ajaran yang sesungguhnya yang tertulis dalam kitab sucinya, bukan dari berita-berita pihak ketiga apalagi pihak yang membenci ajaran agama tersebut. Jika kita tidak ingin mengetahui ajaran dari suatu agama, maka cukuplah kita diam saja tidak perlu berkomentar apa-apa mengenai ajaran agama tersebut, fokus saja dengan apa yang kita yakini tanpa perlu mengganggu ajaran agama lain.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Kepemimpinan

Tiga Fase Kehidupan (To Do, To Have, dan To Be)

Self Reminder, Ingat 5 perkara, sebelum 5 Perkara.